Kearifan lokal tidak hanya hidup dalam cerita-cerita para leluhur, tetapi juga tumbuh melalui komitmen masyarakat yang terus merawatnya dari generasi ke generasi. Semangat itulah yang tercermin dalam kegiatan Doa Bersama dan Larungan Desa Ranuklindungan yang diselenggarakan di Pendopo Wisata Danau Ranu, Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, pada Sabtu (11/7). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung dengan khidmat, hangat, dan penuh makna sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya yang telah menjadi identitas masyarakat setempat.
Kegiatan dihadiri oleh Camat Grati yang diwakili oleh Kasi Trantib Kecamatan Grati, Kapolsek Grati, Kepala Desa Ranuklindungan beserta seluruh perangkat desa, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Ranuklindungan beserta anggota, tokoh masyarakat, juru kunci Danau Ranu, serta para pemuda Desa Ranuklindungan. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi cerminan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama yang hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat.
Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan Kepala Desa Ranuklindungan yang mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu sebagai bagian dari jati diri desa. Menurutnya, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan nilai kehidupan yang membentuk karakter masyarakat, memperkuat persaudaraan, serta menjadi aset berharga yang perlu diwariskan kepada generasi penerus.
Dalam arahannya, Camat Grati yang diwakili oleh Kasi Trantib Kecamatan Grati menegaskan bahwa festival budaya memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi. Tradisi seperti doa bersama dan larungan bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga mengandung nilai sosial, edukatif, serta memperkuat identitas masyarakat sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Oleh karena itu, pelestarian budaya memerlukan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, agar tradisi yang telah mengakar sejak lama tetap lestari dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya.
Suasana semakin khusyuk ketika seluruh peserta mengikuti pembacaan Istighosah, Surah Yasin, Tahlil, dan doa bersama. Lantunan doa yang menggema di kawasan Danau Ranu menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar masyarakat Desa Ranuklindungan senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, kerukunan, dan kemakmuran. Tradisi spiritual tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Larung Sesaji di perairan Danau Ranu. Bagi masyarakat Ranuklindungan, prosesi ini bukan dimaknai sebagai bentuk pemujaan terhadap alam, melainkan sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki, penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, serta pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Nilai-nilai filosofis tersebut menjadi kekayaan budaya yang patut dipahami dan dilestarikan secara arif sebagai bagian dari identitas lokal.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan makan tumpeng bersama yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Momen sederhana tersebut menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan persatuan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Desa Ranuklindungan. Melalui kebersamaan inilah, budaya tidak hanya diperingati sebagai sebuah tradisi seremonial, tetapi benar-benar dihidupi sebagai nilai yang mempererat hubungan antarsesama.
Doa Bersama dan Larungan Desa Ranuklindungan menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, melainkan juga membangun masa depan. Ketika tradisi terus dirawat dengan semangat kebersamaan, didukung oleh pemerintah, tokoh masyarakat, serta partisipasi aktif generasi muda, maka budaya akan tetap hidup, menjadi sumber pembelajaran, memperkuat identitas daerah, sekaligus memperkaya khazanah budaya bangsa Indonesia.
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini