Ranuklindungan, 11 Juli 2026 - Malam Distrikan dan Selamatan Desa Ranuklindungan kembali menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, kebersamaan, dan semangat pelestarian budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Diselenggarakan mulai pukul 19.00 hingga 23.59 WIB, kegiatan yang diawali dari depan Balai Desa Ranuklindungan dan berakhir di Pendopo Wisata Danau Ranu ini menghadirkan semarak budaya yang tidak hanya memikat masyarakat, tetapi juga menegaskan bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat yang kokoh di tengah dinamika perkembangan zaman.
Kegiatan dihadiri oleh Camat Grati yang diwakili Sekretaris Kecamatan Grati bersama Kasi Trantib Kecamatan Grati, Kapolsek Grati, Danramil Grati, Kepala Desa Ranuklindungan beserta seluruh perangkat desa, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Ranuklindungan beserta anggota, Ketua BPD beserta anggota, Ketua K3S Kecamatan Grati, seluruh kepala sekolah di wilayah Desa Ranuklindungan, para pegiat dan pelestari seni budaya Kabupaten Pasuruan, perwakilan PT Dewe Residence, PT Indonesia Power, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, tokoh masyarakat, juru kunci Danau Ranu, serta para pemuda desa. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas budaya, hingga masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan Kepala Desa Ranuklindungan, yang menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai warisan yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi fondasi pembentukan karakter masyarakat. Momentum Distrikan dan Selamatan Desa dipandang sebagai media untuk mempererat persaudaraan, memperkuat gotong royong, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap kekayaan budaya lokal yang diwariskan oleh para leluhur.
Suasana semakin semarak saat Camat Grati yang diwakili Kasi Trantib Kecamatan Grati secara resmi memberangkatkan peserta Pawai Ancak yang didampingi Kepala Desa Ranuklindungan. Arak-arakan ancak dari Dusun Bandilan I, Dusun Bandilan II, Dusun Magersari, Dusun Bebekan Lor, dan Dusun Bebekan Kidul bergerak menuju Pendopo Wisata Danau Ranu dengan menampilkan kreativitas masyarakat dalam mengemas nilai-nilai tradisi ke dalam karya budaya yang sarat makna. Setiap ancak yang diusung bukan sekadar hiasan, melainkan simbol rasa syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa, semangat kebersamaan, serta harapan akan kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera.
Sesampainya di kawasan Wisata Danau Ranu, kegiatan dilanjutkan dengan Festival Seni Budaya yang diawali sambutan Kepala Desa, pengarahan Camat Grati yang diwakili Sekretaris Kecamatan Grati, serta doa bersama. Dalam arahannya disampaikan bahwa pelestarian budaya tidak cukup diwujudkan melalui seremoni tahunan, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda. Festival budaya dipandang sebagai wahana edukasi yang mampu memperkenalkan nilai-nilai luhur, memperkuat identitas lokal, sekaligus menjadi daya tarik yang mendukung pengembangan potensi pariwisata berbasis budaya di Kecamatan Grati.
Beragam penampilan tari dan seni budaya yang dipersembahkan oleh seluruh peserta pawai memberikan warna tersendiri sepanjang malam. Kreativitas masyarakat yang berpadu dengan semangat kebersamaan menunjukkan bahwa budaya akan tetap hidup apabila terus dipraktikkan, diapresiasi, dan diwariskan. Pada akhir kegiatan, dewan juri menetapkan Dusun Bandilan II sebagai juara Pawai Ancak, sebuah capaian yang menjadi apresiasi atas kreativitas, kekompakan, dan dedikasi masyarakat dalam menampilkan karya budaya terbaiknya.
Distrikan dan Selamatan Desa Ranuklindungan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan manifestasi komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya sebagai identitas masyarakat. Tradisi yang terus dirawat dengan semangat kolaborasi akan memperkuat kohesi sosial, memperkaya kehidupan budaya, sekaligus menjadi modal penting dalam membangun desa yang berkarakter, berdaya saing, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal. Melalui kegiatan seperti inilah, budaya tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dihidupkan sebagai kekuatan yang membentuk masa depan.
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini